FAKULTAS EKONOMIKA & BISNIS
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA


Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga
Telp (0298) 311881, Fax : (0298) 324828, (0298) 321212 ext 315, 317
email: feb@uksw.edu

BROWSE BY TAGS :

PAGE  |  Agus Suryono

Agus Suryono

Alumnus FE UKSW 1976

 

Profil : Ramah dan murah senyum

Agus Suryono SE, MM adalah salah satu alumnus UKSW yang memiliki sifat ramah dan murah senyum. Tak mengherankan apabila ia memiliki banyak teman semasa kuliahnya.

Pria kelahiran Jepara, 5 Agustus 1956 ini mulai tahun 1976 resmi tercatat sebagai mahasiswa FE UKSW dan lulus pada tahun 1981. Setelah menyelesaikan jenjang S1, Agus bekerja dan kemudian menikah dengan pujaan hatinya yang bernama Yustina F. Siti Muryani, SH dan dikaruniai seorang putra bernama Anindyo Pradipta Suryo yang sekarang sudah berusia 15 tahun.

 

Perjalanan Karier : Melayani melalui jalur birokrat.

Tidak lama setelah lulus dari FE UKSW, Agus sudah mendapatkan pekerjaan di perusahaan tekstil Bitratex di bagian keuangan. Mengundurkan diri dari sana, Agus kemudian berpindah di Jawa Maluku (distributor Bayer) dan bekerja di bagian marketing. Tahun 1982 Agus berpindah ke Surabaya dan bekerja pada sebuah BUMN sampai tahun 1985.

Dari sinilah kemudian ia memutuskan untuk  masuk  sebagai pegawai negeri – pekerjaan yang sejak kecil dicita-citakannya. “Saya menjadi pegawai negeri melalui jalur yang resmi, yaitu lewat tes dan “tanpa sogokan,” kata Agus.

Kendati menjadi pegawai negeri merupakan cita-citanya, keputusan untuk meninggalkan dunia bisnis dan berpindah ke dunia birokrasi tetap saja menimbulkan pergolakan dalam dirinya. Dari sisi finansial, gaji yang diterima seorang pegawai negeri jauh lebih kecil bila dibandingkan dengan gaji yang pernah diterimanya. Namun pada akhirnya, Agus mengikuti kata hatinya untuk tetap berkarir di bidang pemerintahan.

Karir Agus sebagai seorang birokrat dimulai dari Badan Koordinasi Penanaman Modal  Daerah (BKPMD) Jawa Tengah, sebagai sekretaris. Pada April 2003 dipindah Gubernur ke Bapeda sebagai Kepala Bidang Ekonomi. Di sana ia bekerja selama 6 bulan, kemudian dimutasi lagi pada bulan Oktober 2003 ke Dinas Pariwisata, dan menjabat sebagai kepala Dinas Pariwisata Jawa Tengah.

Setelah menjalani bekerja pada dua instansi yang berbeda yaitu swasta dan negeri, Agus merasakan bahwa aktualisasi dirinya lebih dapat diungkapkan melalui pekerjaannya yang sekarang, sebagai seorang pegawai negeri. Dia menilai, melalui jalur birokrasi akan lebih mudah baginya untuk berperan dalam pengambilan keputusan yang dapat menjangkau masyarakat kecil. “Dengan menjadi pegawai negeri, saya dapat melakukan pelayanan kepada lebih banyak sesama,” kata Agus. Hal ini sesuai dengan misi hidupnya walaupun dari sisi gaji lebih kecil.

 

Masa Kuliah : Membangun relasi dan toleransi

Sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi, Agus memiliki dosen wali untuk mendampinginya selama studi yaitu Bapak Santoso Adi Kusumo (SAN). Mengenang masa-masa di FE, Agus teringat eratnya hubungan antara dosen dan mahasiswa pada saat itu sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar.

Dosen yang paling berkesan selama Agus berkuliah adalah Bp. John J.O.I. Ihhalauw (JOI). Dia menilai bahwa mata kuliah baru yang ditambahkan oleh JOI, yaitu Bangunan Teori, sangat membantu mahasiswa dalam menyusun skripsi. Pada mulanya mahasiswa mengalami kebingungan dalam menyusun skripsi. Namun dengan belajar Bangunan Teori, jalan untuk menulis skripsi menjadi terbuka dan lebih mudah. Selain itu, menurut Agus, mata kuliah Bangunan Teori juga membentuk pola berpikir yang lebih sistematis yang menurutnya sangat berpengaruh dalam mengembangkan dirinya sebagai seorang birokrat yang selalu dituntut untuk memiliki pola pikir yang sistematis dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang ada.

Sejak bermahasiswa, Agus aktif berorganisasi. Ia pernah menjadi sekretaris senat mahasiswa. Melalui kegiatan berorganisasi, Agus merasa mendapatkan sebuah pengetahuan yang tidak didapatkan melalui bangku kuliah. Pengetahuan tersebut adalah networking. Dengan memiliki bekal ilmu, semangat pelayanan, dan networking inilah Agus dapat meniti kariernya sampai sekarang sebagai seorang birokrat.

Membuat suatu kegiatan yang melibatkan orang banyak dan dapat menyenangkan hati orang banyak, merupakan peristiwa yang sangat berkesan di benaknya. Kegiatan seperti bazaar murah keliling ke beberapa kabupaten dalam rangka Dies Natalis merupakan kegiatan yang selalu diingatnya. Menurutnya, dengan kegiatan seperti ini dapat diciptakan human relations dan rasa toleransi dengan orang lain. Dua hal tersebut penting sebagai bekal terjun ke masyarakat yang majemuk ini. Untuk itu ia menghimbau agar mahasiswa tidak hanya selalu membaca buku saja tetapi juga belajar bersosialisasi.

Karena Agus sering berorganisasi (senat mahasiwa dan teater mahasiswa) dan aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, maka ia memiliki banyak teman yang tidak terbatas pada mahasiswa FE saja, tetapi juga mahasiswa dari Fakultas lain. Dari sekian banyak teman yang dimilikinya,  ada seorang teman yang sangat berkesan, yaitu Prasetyo Utomo. Prasetyo memiliki sifat humoris yang tinggi sehingga dalam setiap pertemuan Prasetyo dapat menghidupkan setiap suasana dengan leluconnya.

 

Kesuksesan : Membahagiakan orang lain

Dalam menjalankan pekerjaannya, Agus berpegang pada prinsip pelayanan. Ia meneladani prinsip pelayanan itu dari kehidupan kampus yang dialaminya. Interaksi dengan dosen dan berbagai kegiatan kemahasiswaan yang kental dengan nuansa pelayanan sangat mendominasi kehidupan Agus, sehingga konsep “pelayanan” yang didapatkan Agus semasa kuliah benar-benar diterapkan dalam kehidupannya.  Tidaklah mengherankan apabila ia memandang sukses adalah apabila seseorang dapat membuat orang lain senang, di samping keluarganya sendiri. Baginya, setiap manusia dapat dipergunakan oleh Tuhan untuk bisa bermanfaat dengan orang lain.

Keluarga merupakan pendukung utama dalam kehidupan Agus sehingga ia mencapai sukses sampai sekarang. Dukungan itu terutama dari sang istri yang tidak pernah menuntut banyak. Apa yang dipunyai saat itu dinikmati apa adanya. Menurut keluarga Agus,  kalau kita memiliki banyak,  maka uang yang kita keluarkan juga banyak. Demikian juga sebaliknya, kalau kita memiliki sedikit uang, maka uang yang dikeluarkan juga sedikit. Oleh karena itu mereka berusaha menyukupkan diri dengan apa yang mereka miliki.

 

Birokrat : Tak semua KKN

Agus dapat memahami adanya sorotan masyarakat yang mengatakan bahwa birokrat memiliki sifat KKN yang sangat kental. Namun demikian, ia melihat bahwa tidak semua birokrat melakukan “aksi” KKN. Menurutnya, itu semua tergantung dari masing-masing individu untuk dapat mengendalikan diri dari kemungkinan KKN. Cara yang dilakukannya adalah memperkuat visi dan misi hidupnya. Misi yang diemban dalam hidupnya adalah untuk melakukan pelayanan (sesuai dengan ajaran yang ditanamkan dari UKSW). Dia melihat bahwa banyak dosen-dosen di Satya Wacana, pada waktu itu, tetap hidup sederhana tetapi tetap professional dalam melakukan pekerjaannya. Hal ini kemudian diterapkan dalam hidupnya untuk menghadapi setiap tantangan dalam pekerjaannya, termasuk menghindar dari KKN.

 

Obsesi : Menjangkau lebih banyak orang

Ke depan, Agus  ingin  dapat merealisasikan  target dalam profesinya. Ia berharap, dalam 2-3 tahun yang akan datang sudah ada suatu sistem yang terintegrasi dalam bidang yang ditanganinya yaitu sektor pariwisata Jawa Tengah. Ia ingin “pelayanannya” di sektor pariwisata dapat meningkatkan kesejahteraan lebih banyak orang.

Agus menyadari bahwa banyak sistem ekonomi yang masih “bolong-bolong” di tingkat riil,  misalnya dalam bidang pariwisata di mana masyarakat di sekitar objek belum memiliki rasa awareness   untuk mengembangkan objek yang dimiliki (social capital-nya rendah sekali). Oleh karenanya, ia ingin membuat suatu sistem di mana pengembangan sektor pariwisata dapat melibatkan seluruh elemen masyarakat yang terkait (pedagang asongan, penyedia jasa transportasi, travel agent, dan sebagainya). Dengan demikian, pengembangan pariwisata dapat meningkatkan kesejahteraan  berbagai lapisan masyarakat. Dalam waktu dekat, Dinas Pariwisata Jateng yang dipimpinnya akan meningkatkan pengelolaan Candi Borobudur yang merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia dan menghidupkan kembali kereta api kuno dengan rute Semarang – Solo – Sangiran dengan menawarkan berbagai paket layanan seperti paket pernikahan di atas kereta api.

 

 

Pesan : Jadilah garam dunia

Hal terpenting bagi Agus dalam menjalani hidup adalah dapat bermanfaat bagi orang lain. Prinsip ini merupakan keteladanannya yang patut dicontoh oleh generasi masa sekarang. Garam dunia adalah sebuah konsep yang dikemukakan oleh Agus bagi para mahasiswa. Dalil yang ia kemukakan ialah jika kita menjadi garam dunia, maka orang lain akan senang. Ketika orang lain senang, maka kita akan dibantu sehingga akhirnya rejeki datang kepada kita. Pesan yang lain adalah setiap orang harus selalu rendah hati.

Jika waktu bisa diputar kembali, keinginan  dari seorang Agus Suryono adalah menjadi muda kembali dengan kondisi seperti sekarang. Ia ingin bisa melakukan hal bermanfaat bagi banyak orang sejak masih muda. Bagi mahasiswa FE ia mengingatkan untuk  memaksimalkan kehidupan masa muda dengan sebaik-baiknya. Jadilah garam dunia.

 

Nama                  :  Agus Suryono, SE., MM

Alamat Rumah   :  Jl. Singosari Raya 20, Semarang.

Tlp. 024 – 8440633

Alamat Kantor   :  Dinas Pariwisata Jawa Tengah

Jl. Madukoro Blok BB, Semarang.

Tlp. 024-7608545

E-mail                 :  agssmg@yahoo.com

 

 

Rahasia kebahagiaan bukanlah melakukan apa yang kita sukai, tetapi menyukai apa yang kita lakukan

James M. Barrie

 

Twitter Stream

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan berita terikini dan informasi terbaru langsung ke email Anda.

TOP ↑