FAKULTAS EKONOMIKA & BISNIS
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA


Jl. Diponegoro 52-60 Salatiga
Telp (0298) 311881, Fax : (0298) 324828, (0298) 321212 ext 315, 317
email: feb@uksw.edu

BROWSE BY TAGS :

PAGE  |  Sudhamek Aws

ENTREPRENEUR

Sudhamek aws

Alumni FE  UKSW 1976

 

Profil : From success to significance

“Kita ini hanya alat, bukan pelaku. Artinya, pelaku adalah Tuhan. Sebagai alat harus berusaha melakukan yang terbaik pada pekerjaannya”. Demikian laki-laki berkacamata ini terbukti telah menghidupi filosofi tersebut dalam kehidupannya. Tak mengherankan jika baru-baru ini sosok bernama Sudhamek AWS meraih ERNST & YOUNG – INDONESIA ENTREPRENEUR OF THE YEAR, sebuah penghargaan yang diberikan kepada wirausahawan terbaik di Indonesia. Prestasi yang membanggakan sivitas akademika UKSW, meskipun di sisi lain Sudhamek merasa ada beban yang harus dipikul.  Noblesse obligee, demikian Sudhamek mengutip sebuah pepatah yang berarti dalam nama baik mengandung tanggung jawab. Perjalanan panjang pembentukan seorang Sudhamek AWS telah mengantarkannya pada pencapaian-pencapaian terbaik di bidangnya. Laki-laki yang memiliki hobi berenang dan membaca ini menyelesaikan kuliah di UKSW selama delapan tahun. Waktu yang cukup lama karena Sudhamek menyelesaikan kuliah di dua fakultas yang berbeda, yaitu Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum. Selama berkuliah jiwa kewirausahawannya mulai dipupuk dan akhirnya melalui keuletan, kerja keras, dan percaya diri posisi sebagai Chief Executive Officer (CEO) Garuda Food diembannya. Kepiawaiannya  dalam bisnis makanan dari bahan kacang membuat Sudhamek mengantar perusahaan yang dipimpinnya menjadi market leader dalam industri sejenis. Suatu hasil  yang mungkin tidak diduga sebelumnya, karena saat di sekolah menengah Sudhamek sempat dianggap bodoh oleh gurunya.

Perjalanan Karir: Wirausahawan sejak kuliah

 

Jiwa kewirausahawan sebenarnya sudah mulai dipupuk dalam diri Sudhamek sejak awal masuk kuliah. Waktu itu kegiatan berdagang dimulainya dengan berjualan hasil konveksi/garmen yang berasal dari Semarang. Untung yang diperoleh sekitar Rp 6.000 – 7.000 yang bagi Sudhamek sudah berharga sekali saat itu. Sudhamek mengenang ketika meninggalkan Salatiga bukan hanya dua titel yang dia bawa, tapi juga tabungan senilai Rp 2,5 juta hasil dia berdagang. “zaman itu dengan Rp 2,5 juta sudah bisa tergolong mahasiswa kaya lho, ha..ha..” ,kenangnya sambil tertawa.

Sudhamek berdagang pada dasarnya karena merasa malu kuliahnya lama. Keinginannya membantu kakak-kakaknya yang jungkir balik bekerja keras membantu ekonomi keluarga merupakan motivasi utama dia berdagang. “…supaya dilihat mereka saya juga mau kerja lho…”,tuturrnya.

Selanjutnya sejak kuliah tahun ke tujuh dan ke delapan Sudhamek mulai menjalankan usaha berdagang kacang. Dengan menggunakan mobil box pekerjaan mengantarkan dagangan ke retailer dilakukannya sendiri. Kadang-kadang saat pesanan sedikit sepeda motor pacar pun turut digunakan untuk berdagang. Motor bebek sang pacar menjadi teman Sudhamek membawa dagangannya yang ditempatkan di ransel. Selain mengantarkan barang dagangan ke warung-warung rumahan di Salatiga, pesanan dari Solo pun dilayani sambil apel ke tempat pacar. Meskipun tiap toko hanya mengambil satu dus (satu bal), Sudhamek sudah merasa senang setengah mati. Kala itu kacang yang dijual dengan bahan baku dari Pati itu telah menggunakan merek Garuda, tapi masih  belum terkenal seperti sekarang. Selain menjual kacang dengan merek Garuda, ada merek lain yang turut dijual yaitu merek Naga Sembilan.

Kenangan FE UKSW: “A lot of memories…”

Sudhamek mengenang bahwa ketika kuliah di FE UKSW dia merasa situasi kompetisinya sangat keras. Tidak mengherankan kalau waktu tes yang datang baru satu dua mahasiswa tapi kursi yang terisi sudah separuhnya. Mahasiswa cenderung berkelompok dalam belajar, bahkan sampai tes pun inginnya berdekatan. Tapi, bagi Sudhamek dia lebih suka berbaur dengan siapa saja. “Bergaul tanpa berkomplot”, demikian prinsipnya.

Yang tidak kalah menarik tentang UKSW adalah julukan Indonesia mini. Mahasiswa dari Sabang sampai Merauke ada. Bagi Sudhamek, ini baik untuk belajar berbagai budaya sekaligus melatih interpersonal skills. Kehidupan sosial bisa berkembang dan sense of competition dilatih.

Mengenai fasilitas, UKSW punya perpustakaan yang lengkap,sehingga tidak heran dia bisa memenuhi hobi bacanya. Bahkan, pacarnya sering diajak ke perpustakaan. Selain itu, karena Salatiga  merupakan kota kecil, maka kegiatan utama mahasiswa pun akan lebih fokus untuk belajar. Salatiga menurut Sudhamek  merupakan lingkungan yang sangat kondusif. Hobi lain Sudhamek yaitu berenang juga mendapatkan tempatnya di Salatiga ketika sering berenang di pemandian Muncul, dekat Salatiga. Biasanya dengan teman-temannya dia melakukan hobi ini.

Meskipun sekarang sudah menjadi seorang vegetarian, Sudhamek tidak bisa melupakan kenangannya menghabiskan 90% waktunya setiap pagi menikmati soto garasi ESTO ketika menjadi mahasiswa. Hampir setiap pagi bersama sang pacar Sudhamek makan soto ayam di sana. Sudhamek masih ingat harga satu porsi soto masih Rp 125/mangkuk. Biasanya dia makan satu mangkuk, sedangkan sang pacar ½ porsi, sehingga dihitung Rp 75. Ditambah lauk ini itu total yang dihabiskan Rp 225.  Biasanya Sudhamek dan pacar gantian untuk saling traktir, tapi Sudhamek biasanya akan lebih banyak menraktir, perbandingannya 65:35. “Gengsi kalau 50:50, ha ha…”,kenangnya beralasan.

Kenangan yang lain adalah tentang dosen FE UKSW. Sudhamek menganggap rata-rata dosen turut berpengaruh dalam membentuk pola berpikirnya sesuai dengan subyek masing-masing. Sudhamek senang dengan bapak Robert Lopulisa (almarhum) yang suka memberi tugas meringkas artikel atau buku, yang kemudian harus dipresentasikan di depan kelas.  Ada pula bapak  Nico L. Kana, yang bagi Sudhamek banyak membantunya dalam memahami metode riset.

Mengenai teman kuliah, Sudhamek memiliki kenangan khusus dengan teman kosnya. Purnomo Lebani adalah teman kosnya yang paling lucu. Teman lainnya adalah Hendrijanto yang sering luntang-lantung dengannya waktu mahasiswa. Ada lagi temannya yang berkesan namun sekarang sudah meninggal dunia, namanya Saud Tobing. Sudhamek mengenangnya sebagai teman yang tinggi sekali friendship value-nya. “Orang baik kok seringnya pendek umurnya ya…“, ungkapnya merenung.

Jika sempat mampir ke Salatiga, Sudhamek biasanya sering masuk ke kampus untuk bernostalgia, karena di kampus itu banyak kenangan yang terjadi. Hampir setiap sudutnya memiliki cerita. Cerita apa saja, seperti misalnya di sebuah perempatan dia pernah ngebut dan jatuh dan sebagainya…..

Masukan untuk FE  

Sudhamek memiliki mimpi ke depan kalau dunia kampus dengan dunia bisnis suatu saat adalah dua dunia yang menyatu. Campus needs business, business needs campus. Ini yang sudah terjadi di Amerika. Menurutnya, praktisi bisnis di Amerika sangat care pada perkembangan konsep di kampus. Sebaliknya, kampus juga melihat dunia bisnis adalah sumber inspirasi dan sekaligus laboratorium terbaik bagi mahasiswa mereka. Perlu dikembangkan agar masyarakat kampus berorientasi pada pasar (users). Sebaliknya, pebisnis juga perlu menyadari pentingnya perkembangan ilmu pengetahuan. Persaingan global itu menuntut pebisnis semakin terus mengasah dan mengembangkan pengetahuannya.

 

Twitter Stream

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan berita terikini dan informasi terbaru langsung ke email Anda.

TOP ↑