Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW mengadakan Seri Kuliah Tamu Doktor Manajemen pada hari Sabtu, 10 September 2022. Acara berlangsung melalui platform Zoom Meeting dan mengangkat tema “Pengelolaan Nilai Unggul Saujana Kawasan Borobudur”. Kuliah tamu kali ini menghadirkan narasumber Dr. Amiluhur Suroso M.M. yang merupakan Dosen dari Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarukmo (STIPRAM) dan beberapa program Magister yang ada di UGM. Kuliah Tamu diawali dengan sambutan oleh Prof. John J.O.I Ihalauw, S.E., Ph.D., C.H.E selaku pengajar Magister Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW. Setelah itu dilanjutkan dengan doa dan pemaparan CV narasumber oleh Ibu Komala Inggarwati, S.E., M.M., M.Bus., (Mgt)., Ph.D selaku moderator pada acara kali ini.

 

Masuk pada sesi pemaparan materi, Dr. Amiluhur Suroso memaparkan tentang bagaimana mengelola nilai unggul Kawasan pusaka Saujana Borobudur dan Strategi Bisnisnya. Dr. Amiluhur menceritakan tentang awal ditemukannya Borobudur, lalu mengapa Borobudur menjadi menarik dan penting.

Lalu Dr. Amiluhur menjelaskan tentang Saujana itu sendiri. Saujana adalah terjemahan dari Cultural Landscape yaitu gabungan karya alam dan manusia, yang mengekspresikan hubungan panjang dan intim antara masyarakat dan lingkungan alamnya menurut UNESCO. Borobudur termasuk dalam Cultural Landscape karena batu-batu yang ada di Borobudur adalah hasil karya manusia dan berdiri disekitar alam. Menurut KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) Saujana bisa juga diartikan sejauh mata memandang.


Wilayah Borobudur menurut Cultural Landscape terdiri dari komplek percandian yaitu Mendut, Pawon, Borobudur yang dikenal resmi sebagai Borobudur Temple Compound dan diantara dua sungai yaitu Elo dan Progo ditambah dengan lembah yang dikelilingi delapan gunung. Pendiri Borobudur yaitu Wangsa Syailendra (Sang Penguasa Gunung). Borobudur Temple Compound didirikan untuk tempat ibadah di Mendut, penyucian di Pawon, ziarah atau tempat berkunjung di Borobudur dan menjadi perpustakaan untuk belajar hidup. Borobudur terletak tepat di tengah-tengah pulau Jawa di sebelah Selatan Gunung Tidar. Saujana dari Borobudur yaitu delapan gunung yang mengelilingi Borobudur yaitu Menoreh, Sumbing, Sindoro, Tidar, Andong, Telomoyo, Merbabu, dan Merapi.

“Mengapa harus Borobudur? Ada tiga unsur alam semesta di Borobudur yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Kamadhatu ada kaitannya dengan manusia atau unsur nafsu. Rupadhatu yaitu unsur wujud dan jika manusia selesai dengan urusan dunianya dia akan berjalan lagi pada Arupadhatu yaitu unsur tidak berwujud, artinya ketika sudah sampai di stupa paling tinggi Borobudur, manusia itu sudah menuju Nirwana. Borobudur tidak semuanya berwujud batu tetapi sebenarnya sebuah batu yang menyelimuti bukit.” – ujar Dr. Amiluhur 

Selanjutnya Dr. Amiluhur menjelaskan tentang nilai simbolik komplek Candi Borobudur yaitu terdiri dari satu garis lurus dari Candi Mendut melalui Candi Pawon dan menuju Candi Borobudur dan juga menceritakan tentang Legenda Jawa. Menurut W.O.J. Nieuwenkamp Borobudur seperti Teratai yang mengambang di atas air danau sebagai lambang datangnya Buddha Maitreya keempat. Setelah itu Dr. Amiluhur menayangkan sebuah video tentang cerita seorang Geologist tentang danau tersebut.

Flora dan fauna unik yang ada disekitar Candi Borobudur terdapat banyak tumbuhan obat, kerajinan, dan lain sebagainya. Asal usul motif batik kawung berjumlah sembilan yang artinya kesucian yang diatur oleh alam yaitu pola empat titik dalam segi empat sama pentingnya dengan satu titik yang kelima berada ditengah. Selain itu, dijelaskan juga mengenai Borobudur dan konsep mancapat (Sacred Five), ukuran dasar bangunan candi, stupa candi Borobudur dan golden ratio (proporsi agung).

Wisatawan yang berkunjung ke Candi Borobudur mengalami kenaikan setiap tahunnya. Dari data terakhir, kurang lebih ada empat juta wisatawan yang berkunjung dan juga polemik tentang Borobudur. Untuk persentasi kemiskinan dikawasan Borobudur ada di nomor enam padahal kontribusinya paling besar dan hal-hal yang mengganggu masyarakat dalam melihat Saujana yang ada disekitar Candi seperti Baliho yang dipasang disembarang tempat.

Terdapat tiga permasalahan dalam Cultural Landscape yaitu:

1. Degradasi lingkungan disekitar Kawasan Borobudur

2. Lemahnya keterkaitan dengan simpul-simpul tematik Candi Borobudur disekitarnya

3. Apresiasi pemerintah dan masyarakat yang lemah

Untuk strategi dalam menghadapi tigas permasalahannya yaitu:

1. Merancang ulang Kawasan Borobudur

2. Membuat konsep hijau (Green Concept)

3. Menentukan stakeholders di Borobudur

Dalam mengelola Borobudur di masa depan bisa dengan cara menurunkan kebijakan, strategi, dan program. Pokok manajemennya yaitu mengelola sumber daya kebudayaan, pengelolaan akses mengeliminisai pemanfaatan sumber daya yang berlebihan, manajemen organisasi, dan membuat model pemasaran Borobudur.


Setelah pemaparan materi selesai dilanjutkan dengan tanya jawab. Sesi ini berlangsung secara interaktif dengan berbagai pertanyaan menarik yang diajukan peserta. Acara selanjutnya yaitu foto Bersama lalu penyampaian kesimpulan oleh Prof. John J.O.I Ihalauw, S.E., Ph.D., C.H.E lalu ditutup oleh Ibu Komala.

Semoga dengan adanya kuliah tamu Doktor Manajemen ini, para peserta dapat terinspirasi dan menambah wawasan baru yang berguna di masa sekarang dan yang akan dating.

 

#BravoFEB

#VivaUKSW

#KuliahTamuDoktorManajemen