"Guru Besar FEB UKSW Terpilih dalam Australia Awards Short Course tentang Reformasi Dana Pensiun "

FEB UKSW — Kabar membanggakan datang dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana (FEB UKSW). Prof. Apriani Dorkas Rambu Atahau, S.E., M.Com., Ph.D., Guru Besar Departemen Manajemen FEB UKSW, berhasil terpilih dalam Australia Awards in Indonesia Short Course bertajuk Mobilising Long-Term Capital through Insurance and Pension Reform in Indonesia.

Berdasarkan pemberitahuan resmi Australia Awards in Indonesia tertanggal 10 Juli 2026, aplikasi Prof. Apriani dinyatakan berhasil. Short course ini terdiri atas tiga rangkaian kegiatan, yaitu Pre-Course Workshop di Indonesia pada 18–20 Agustus 2026, In-Australia Course pada 14–25 September 2026, serta Post-Course Workshop di Indonesia pada 2–4 Februari 2027.

Keikutsertaan Prof. Ani dalam program ini memiliki keterkaitan dengan perubahan regulasi dalam industri dana pensiun pasca terbitnya UUP2SK (UU Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan). Selain sebagai pengajar di bidang manajemen keuangan, Prof. Ani juga merupakan Direktur Utama Dana Pensiun Satya Wacana (DPSW), sehingga short course tersebut dinilai relevan dengan kebutuhan akademik dan profesionalnya.

“Saya ingin melakukan studi banding dengan sistem keuangan di Australia, negara yang telah berhasil menghimpun dana jangka panjang yang besar melalui program pensiun mereka yang dikenal dengan nama superannuation,” jelas Prof. Ani.

Menurut Prof. Ani, topik reformasi dana pensiun menjadi penting karena perkembangan industri dana pensiun di Indonesia masih menghadapi tantangan, baik dari sisi market penetration seperti cakupan atau jumlah peserta dan literasi, maupun market deepening berupa ketersediaan jenis-jenis produk pensiun. Padahal, industri ini memiliki potensi untuk menghimpun dana jangka panjang yang dapat menjadi sumber pendanaan pembangunan.

“Peningkatan jumlah peserta pensiun akan membantu meningkatkan jaminan kesejahteraan hari tua mereka yang secara makro akan dapat mengurangi beban negara,” ungkapnya.

Prof. Ani juga menilai isu tersebut berkaitan dengan kebutuhan Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Dengan kemampuan APBN yang terbatas, Indonesia membutuhkan sumber dana lain, termasuk dana pensiun, asuransi, dan dana global. Di sisi lain, literasi dan inklusi dana pensiun yang masih rendah membuat upaya memberikan jaminan kesejahteraan hari tua masih jauh dari harapan. Prof. Ani menyebut bahwa 88% pekerja atau sekitar 136 juta orang belum mempunyai dana pensiun. Karena itu, diperlukan program pensiun yang mampu menyasar para pekerja tersebut.

Melalui short course ini, Prof. Ani berharap dapat memperkuat pengetahuan dan keahlian dalam pengelolaan dana pensiun, khususnya terkait strategi investasi, alokasi aset, pemilihan instrumen investasi, tata kelola perusahaan, serta manajemen risiko pendanaan dan investasi. Ia juga berharap dapat membangun jejaring profesional dengan institusi di Australia yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan dana pensiun.

Pengalaman tersebut nantinya akan dibawa kembali melalui kegiatan tridharma di FEB UKSW. Dalam pengajaran, Prof. Ani dapat memperkenalkan dana pensiun kepada mahasiswa serta menyalurkan mahasiswa dalam program magang di industri dana pensiun. Dalam penelitian, pengalaman tersebut dapat dikembangkan melalui kajian dan penulisan mengenai dana pensiun, termasuk menjajaki joint research dengan akademisi, praktisi, dan regulator industri dana pensiun, baik di dalam maupun luar negeri.

Sementara dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), Prof. Ani berharap dapat menyusun bahan-bahan literasi dana pensiun dan menyampaikannya kepada stakeholders terkait.

Kontribusi tersebut juga diarahkan untuk memperluas literasi dana pensiun bagi masyarakat, termasuk mahasiswa sebagai angkatan kerja di masa mendatang, pekerja sektor informal, khususnya wanita, serta kelompok yang termarginalkan secara sosial.

“Saya ingin mengembangkan literasi dana pensiun bagi masyarakat. Harapan saya agar apabila semakin banyak orang mengetahui tentang pentingnya dana pensiun maka mereka dapat melakukan persiapan pensiunnya sedini mungkin sehingga bisa menjalani hari tua dengan sejahtera,” tutur Prof. Ani.

Selain itu, Prof. Ani ingin memperkuat sinergi ABG (akademisi, bisnis, dan government) dalam menyelesaikan isu-isu terkait dana pensiun. Sebagai praktisi dalam industri dana pensiun sekaligus akademisi, ia berharap dapat berkontribusi dalam mengembangkan kelembagaan dana pensiun yang profesional melalui policy dialogue, melanjutkan riset-riset terkait dana pensiun, serta melakukan pengabdian masyarakat melalui seminar, workshop, dan diseminasi modul maupun video tentang dana pensiun.

Bagi Prof. Ani, kesempatan ini menjadi ruang untuk mengembangkan diri secara profesional sekaligus meningkatkan kapasitas dan pengetahuan mengenai dana pensiun, termasuk investasi dan regulasinya. Ia juga berharap dapat memperluas jejaring dengan unsur ABG di Indonesia maupun Australia serta menjajaki program kerja sama lain seperti joint research dalam bidang dana pensiun.

Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh dari program tersebut selanjutnya diharapkan dapat dibagikan kembali kepada mahasiswa melalui kegiatan perkuliahan, bimbingan skripsi, tesis, disertasi, penulisan buku, maupun sebagai pembicara.

#BravoFEB

#VivaUKSW

#FEBUKSW

Bagikan:

Facebook
X
WhatsApp